Senin, 27 April 2015

Senja Di Batas Kota (Part 1)



Sesosok siluet gadis muda menghadap balkon jendelanya. Ruangan itu agak samar dan sosok gadis itu seakan ingin merengkuh dunia luar namun tetap bersembunyi di balik gordennya. Terlihat rapuh. Anonim. Di keheningan malam bertaburan bintang, dihembusi angin laut dari pantai Raja Ampat, Tuhan telah menggariskan nasib yang mulai mendayu-dayu untuk sang gadis muda.
  
    Merenungi sesuatu yang jauh di garis cakrawala, seraya menitikkan air mata. Bersama dengan bunyi ombak, ditelan deru mengombak.

***

      Mala bergegas merapikan laptop dan beberapa buku toplist-nya. Buku panduan perjalanan dunia timur, suku Asmat di Papua dan perbatasan Papua Nugini, peta dan jurnal hariannya. Setelah ditutup resleting tasnya dan menalikan Nike  kesayangannya, ia merasa siap menghadapi hari ini. Dicek lagi agendanya. Hmm, meeting LSM, melihat site, finishing sketsa, diving coaching, late dinner bareng Dio dan kirim artikel.

      Sungguh padat jadwalnya hari ini. Tapi itu memang sudah menjadi jadwal hariannya sejak awal tahun ini. Sejak ia menyanggupi proyek jalan tol di Papua. Sejak ia punya lisensi selam internasional, di Aussie. Sejak ia mulai berkenalan dengan seorang staf ahli Kementerian PU, Dio.

      LSM Mala menunjuknya untuk mengurusi proyek ini, dan sejak diharuskannya pendampingan dari pemerintah, maka mau-tak-mau, suka-tidak-suka, Mala harus direpotkan oleh Dio. Dio adalah musuh utamanya dalam mewujudkan idealisme sketsanya. Karena Dio berfungsi untuk menekan budget serendah-rendahnya dan memastikan berjalan efektif dan efisien dan selesai sesuai tenggat waktu yang ditentukan. Mala kadang membenci orang itu.

      Yah tapi hidup memang lucu. Kini keduanya akrab dan akur seperti kucing-kucing peliharaan bos. Kadang-kadang mereka bertengkar juga seperti kucing dan tikusnya bos. Lagi-lagi mentalnya Dio adalah seorang penggombal dan kali ini targetnya adalah Mala. Maka dengan segala cara, ia mencoba meluluhkan hati gadis itu.

      Mengikuti kelas pelatihan diving dimana Mala menjadi instrukturnya, menunggu di site project, follower di twitter Mala, selalu eksis di setiap media untuk menanyakan kabar Mala. Sms, bbm, fb, twitter, path, instagram, dan whats app. Macam abg saja. Kadang Mala geli sendiri melihat kelakuan aneh partner nya ini. Jengah dan jenuh. Namun sekarang Mala menganggap semua itu biasa meski awalnya sangat terganggu. Siapa pula orang baru ini?

      Ting-tong. Mala segera mem-push emailnya.

      “Darling, sarapan di T-corner yuk. Aku jemput. Just say yes. It’s an order.” Begitu isi perintah si pengirim email, alias Dio. Maka bertambah pula agenda Mala awal pagi ini. Dalam hati ia berkata, “mudah-mudahan ga ada yang direvisi lagi deh,” Seraya memanjatkan do’a.


***





      Raja Ampat merupakan gugusan pulau di Papua yang memiliki pemandangan bawah laut paling menakjubkan di dunia. Mala suka menyelam sejak dua tahun terakhir. Awalnya ia diajak Rere, adiknya yang sedang menyelesaikan sekolah kedokteran di Belanda. Mala jatuh cinta untuk pertama kalinya pada Bunaken. Ia terobsesi meraih lisensi selamnya di Australia, di Great Barrier Reef  yang berarus deras dan indah, serta memiliki ikan cantik yang berwarna-warni. Raja Ampat adalah cinta keduanya. Ultimate love.
      
Mala memutuskan untuk menyelam sekali lagi bersama empat orang muridnya. Setelah 20 menit kemudian, Mala mengacungkan jempolnya ke atas dan meminta semuanya untuk naik ke atas permukaan laut.
  
    “Okay that’s a rub,” ujar Mala menyeringai, “We’ll meet again next Tuesday, InsyaAllah. Thank you and good evening all.” Ia mengakhiri sesi latihan sorenya. Semua bertepuk tangan untuk kesuksesan hari ini. Mala memberesi fin dan oksigennya di dok kapal. “Pak, menurutmu apakah proyek ini bisa rampung akhir tahun?” Mala bertanya pada Dio, yang sedang memberesi apparatus selamnya di pojokan. Dio sudah mengikuti kelas Mala sejak satu minggu yang lalu.

      “Harus. Tidak ada alasan untuk menundanya. Aku sendiri yang akan memastikan semuanya berjalan efektif dan efisien” Dio berkata tegas. Huh, dasar si perfeksionis. Ini adalah sketsa ke-20 Mala yang ditolak Dio. Gimana mau selesai kalau penghitungan selalu salah? Title cum laude  Mala seakan tidak ada artinya di mata Dio. Pengalaman adalah yang terpenting, begitu selalu kata Dio. Usianya hanya terpaut 10 tahun dari Mala yang berusia 26 tahun. Mala jengkel.

      “Lalu finishing tadi mestinya sudah final? Kenapa selalu bapak tolak sih? Membuat saya merasa incapable.” Mala sedikit emosi.

      “Ya, aku harus cek dulu nanti malam. Oya, malam ini makan di Mbok Yem. Temani aku dulu. It’s an order.” Dio berujar, eksplisit memerintah.

      “Maaf pak, saya tidak bisa. Malam ini saya ada artikel yang harus dikirim,” Mala mencoba menolak halus sebenarnya ia ogah diperintah seperti itu. Malas deh.

      “Alah, itu kan bisa menunggu. Dateline jam 12 juga bisa. Aku juga sempat jadi wartawan dulu. Dinner hanya 1-2 jam. Nggak lama.” Dio memaksa.

Yah, yang aku nggak mau itu karena dinnernya sama kamu, pak. Mala membatin dan hanya bisa meringis dalam hati. Dasar player. Bos diktator. Kejam dan bengis.

“Tapi pak…”

“Yuk, sudah. Saya sudah order tempat. Ayo.” Dio setengah menggamit lengan Mala keluar tempat diving hut itu.


***


“Malam ini kamu cantik” puji Dio. Mala bengong karena bingung apa yang harus dikatakan. Masalahnya ia merasa sama saja tiada yang beda. Seingatnya, ia memakai baju ini sejak tadi pagi dan agendanya yang padat membuatnya tidak memperhatikan penampilan.

“Hehe, terima kasih pak. Bapak juga ganteng,” Mala menyeringai serba salah. Mala merasa harus berterima kasih dan juga memuji orang yang sudah mengundangnya, Dio. Ramadhan Arisandi Putra alias Dio.

Makan malam itu berlalu dalam diam. Sesekali Dio yang berkomentar ini-itu, memecah kebekuan di antara mereka. Tetapi secara keseluruhan, sikap Mala adalah diam. Mala hendak menunjukkan sikap tidak profesionalnya di hadapan Dio, kali ini. Untuk kali ini saja.

Sejujurnya, bukannya Dio tidak menangkap gelagat itu. Ketidaknyamanan sangat kentara, jelas sekali di mata Mala. Dio hanya berpraduga bahwa hal ini akan berlalu, mengingat track record Mala yang dapat dipercaya dan handal dalam pekerjaannya. Ah, masa segitu saja sudah ngambek, Dio introspeksi diri, apa mungkin aku sudah keterlaluan? Mengapa sulit sekali menaklukkan gadis ini? Mungkinkah aku yang berlaku tidak professional? Menyatukan antara hati dan pekerjaan? Sehingga pekerjaan yang tadinya sudah dapat diproses namun mengalami keterlambatan akibat dia yang menunda dan selalu menggagalkan desain Mala? Hmm… Itu karena Mala yang sulit membuka hatinya untuk dia. Dio membela diri. Itu karena Mala yang tidak mau berkompromi dalam memenuhi keinginan Dio. Be professional, Dio. Just be professional! Dua sisi hatinya berperang, saling mengalahkan ego satu sama lain. 

(bersambung..)




Sumber Gambar:
https://aurellio.files.wordpress.com/2014/10/wpid-img_12026328374336.jpeg
http://maschun.blogdetik.com/files/2015/02/b0e04aca5e93669a272f6a1ccd63ec90_tempat-wisata-papua-raja-ampat-yang-eksotis.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar