Senin, 27 April 2015

Senja di Batas Kota (Part 6)


Percakapan itu masih terngiang kembali.
“Ibu ngga akan pernah setuju kamu berpacaran apalagi menikah dengan gadis proyek itu. Dia itu ngga cocok sama ibu. Dia ngga akan menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak-anak kamu. Kamu tak perlu mengajar-ngejarnya lagi. Ibu sudah menjodohkanmu dengan Dinda, penerus pimpinan Uniheart.”

Meskipun sudah berkepala tiga, di hadapan ibunya, Dio merasa menjadi anak kecil yang selalu diurus dan diatur ibunya, tak punya kebebasan menentukan pilihan. Kadang ia ingin pergi saja dari rumah ini. Tapi ia begitu sayang pada ibunya. Siapa yang akan merawat ibu dan menemaninya nanti? Ia anak satu-satunya. Ayahnya sudah lama menikah lagi dan tinggal dengan istri mudanya. Dio serba salah.

“Bu, tolonglah bu. Sekali ini saja Dio ingin menentukan pilihan hati Dio. Selama ini ibu yang memiliki kuasa atas semua keputusan hidup yang Dio jalani. Sungguh beberapa tidak menghasilkan kebahagiaan yang ibu inginkan pada Dio. Sekali ini saja bu… Dio mohon..”
Ibu berpaling ke jendela, tak tega memandang Dio yang kini berlelehan air mata. Suasana dilematis ini bukannya tak pernah ia rasakan. Kini, ia seperti berada di posisi orangtuanya dahulu yang melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan. Apakah ia akan mengorbankan kebahagian anaknya, demi harta dan tahta? Hidupnya sudah cukup menjadi pelajaran untuk tidak melakukan hal yang sama.

“Ibu, ananda mohon izin dan do’a…”
Ibu berurai air mata, masih tak mau menatap Dio, “Pergilah anakku. Pergi temukan kebahagiaanmu..”

***

Dio menemui Mala, dalam suatu jadwal penerbangan yang sempit di Singapura. Mala hendak pergi ke Inggris, untuk mengambil masternya. Dio memohonnya untuk bertemu sebentar. Maka mereka berjanji untuk bertemu ketika Mala transit.


memorable place at the time

“Seharusnya kukatakan sejak dulu. Mala, maafkan aku. Selama ini aku tidak menjadi tuan atas nuraniku. Aku sengaja menghinamu, selalu menolak pekerjaanmu, karena dengan begitu aku bisa melihatmu lebih lama. Bisa menutupi perasaanku yang sebenarnya. Padahal aku menipu diri sendiri. Kelakuanku yang demikian, tak juga menghapuskan perasaanku padamu, Mala..” untuk pertama kalinya Mala melihat laki-laki itu meruntuhkan tembok kesombongan dalam dirinya. Ia trenyuh.
Mala tersenyum kaku, merasa tersanjung. Ia sudah memaafkannya, dalam hati ia selalu memaafkannya.

“Maukah menikah denganku?”

“Aku sudah memaafkanmu, pak. Tapi untuk menikah. Mungkin belum… aku ingin menggapai apa yang sudah kucita-citakan sejak dulu.”

Penolakan halus. Apa yang harus kulakukan sekarang? Dengan kata-kata itu, berakhirlah pertemuan mereka.

“Aku akan menjemputmu Mala. Pada saatnya nanti kau akan tahu janjiku. Ingatlah itu baik-baik.”
Mala berlalu pergi meninggalkan Dio yang terpaku. Gadis itu pergi mengajar karir dan cita-citanya. Ia tidak bisa dengan egois menghentikannya. Ia rapuh. Tak tahu apa yang akan dilakukannya sekarang. Ketika restu sudah didapat dan semua jalan dilancarkan, jika Tuhan belum berkehendak, maka segalanya tak mungkin terjadi. Belum terjadi setidaknya.. Dio pergi. Ia akan pergi dan tak kembali untuk mengobati luka hatinya. Sampai ia bisa pulih menghadapi dunia. Ia akan minta pindah. Selamat jalan hatiku… selamat tinggal Indonesia…untuk sementara, hingga aku bisa tegak menghadapi dunia..


^^^

2015.
Setahun berlalu sejak pertemuan terakhir mereka. Ia sudah jarang menyelam, fokus dengan master-nya. Begitupun Dio. Sejak itu, tak pernah ada email atau berita apa pun. Rere kadang berkomentar sebal, bahwa Mala, kan sudah dewasa, tapi untuk memutuskan pilihan hidupnya saja susahnya minta ampun: antara Roni dan Dio. Yang menderita adalah mereka bertiga akibat kegamangan Mala dalam membuat keputusan yang tegas.

Mala berdalih, bahwa ia sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Roni. Pria itulah yang masih mengharapkannya. Ia tak menyalahkannya. Mencintai adalah hak pribadi. Ia tak bisa melarang seseorang untuk mencintai orang lain karena itu akan membuat mereka bahagia. Rere berkata sebal, terserahlah. Lalu bagaimana dengan Dio. Pusing. Ia tak mau membahas mereka. Sekarang ia hanya ingin bekerja dan menyelesaikan master. Sudah itu bekerja lagi, entah pulang ke Indonesia, entah di sini. Dimanapun tak jadi masalah, pikirnya enteng. Tapi mama selalu bertanya kapan pulang.. dan ia sudah lama tak berjumpa dengan papanya di Jerman. Esok, ia akan membeli tiket untuk pergi ke Jerman. Sebelumnya akan melihat menara Eiffel yang terkenal itu.

tiket apapun yang didapat, just so be it.




(bersambung..)


Gambar:
http://thumbs.dreamstime.com/x/singapore-changi-airport-arrival-hall-22527957.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjU9RDxD863WxTozxJ-ZayDAIUQq0OIde-npoyrgzlDBSc6ua-AZwB48mqxrQ_k33l5kPiBpyEOKTsnMhZajmfdwGlxhvtcItyHRPwdSPDnGQ9ebWr-OJh2Ec391iK-_soSM9UWdClsuik/s200/IMG_2019.JPG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar