Senin, 27 April 2015

Senja di Batas Kota (Part 3)


Suasana proyek semakin memuncak. Semuanya serba cepat. Serba repot. Batas waktu launching perdana dan konferensi pers sudah terasa aromanya. Baik percakapan online dan offline, semua yang terlibat, tidak sabar menunggu selesainya kerja mereka. It was so excited. Mala hampir tak bisa memejamkan matanya lewat dini hari, karena membereskan yang tercecer dan finishing segala hal yang perlu dipoles. Sibuk. 

Tapi Mala sangat menikmatinya. Sangat menikmati baik di belakang meja maupun di lapangan. Ia merasa menjadi bagian dan merasa berharga. Kawan-kawan sekerjanya, yang sebagian besar, malah kenyataannya demikian, adalah laki-laki, berkata mereka puas dan terhormat bekerja dengan Mala. Kita berresonansi. Rupanya energi itu memancar dari dalam dirinya. Mala terlihat lebih cantik dan lebih percaya diri. Tidak hanya menjadi bahan bully seperti saat online dan offline sebelumnya. Ia telah membuktikannya melalui pekerjaannya. Tanpa banyak bicara, tapi bekerja dan bekerja hingga dini hari. 

Kadangkala, kopi paginya yang diseruput pukul 2 dini hari, masih terasa nikmat diminum saat pertama bangun pada pukul 4. 



kopi pertama sebelum subuh menjelang

Ia hanya tidur 2 jam. Baginya menyenangkan seperti ini. Adrenalinnya terpacu. Otaknya berputar terus. Mekanisme tubuhnya bekerja konstan. Ia berencana liburan saat proyek ini selesai. Tapi itu nanti. Yang paling dekat adalah pers konferensi di Jakarta. Minggu ini adalah minggu final. Mala senang bukan main. Maka ia sempatkan untuk membalas sms mamanya,

“Yes, mom. I will come to Jakarta this weekend, because I miss you so much and because I miss all of you.”

And I miss him. Tak terucap. Tak tersirat. Tak tersurat. Pokoknya ia akan datang ke Jakarta. Jakarta, I’m coming!


Namun, satu peristiwa membuyarkan segalanya. 

Satu peristiwa nahas yang membuat Mala harus pergi meninggalkan site project karena Dio. Dio yang menyebabkan sedikit noda sebelum batas akhir ini selesai. Bos Mala entah mengapa selalu menyalahkan Mala atas sedikit kesalahan pada batas pengiriman material akhir. Dio terang-terangan memihak bos Mala pada saat argumentasi. Dio pada saat yang tidak tepat itu justru berada di situ dan tidak mencoba membela Mala.  

Okay, that’s it! Mala pergi, berlalu dalam senyap. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. 
Baiklah, lupakan kerja keras selama hampir satu tahun belakangan. Lupakan semuanya hanya karena masalah kecil dan kurang signifikan, karena wanita tidak berhak mendapat tempat di dunia yang dikuasai oleh mayoritas kaum testosteron ini. Ya, ia akan mengalah. Ia seharusnya tahu lebih awal. Ia akan puas hanya dengan melihat hasil akhirnya nanti. Secara de facto, pekerjaannya telah selesai, maka ia harus segera pergi. Ini tandanya.

***

GA4571 tujuan Jakarta akan segera mendarat di bandara Soekarno-Hatta, pramugari segera mengingatkan penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman. Akhirnya. Mala akan buktikan pada mama dan papa, bahwa ia bisa. Terutama Dio yang terus-menerus menantangnya.  Dan kadang membuatnya sakit hati. Mala hanya merasakan kewajiban tertulis sebagai bagian dari tanggung jawabnya dalam proyek ini. Saat akhir adalah pada saat konferensi pers. Inilah saatnya.

(bersambung)


Gambar:
http://duniafitnes.com/wp-content/uploads/2014/02/kopi-diet-dan-menurunkan-berat-badan3.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar