Jumat, 17 April 2015

Tips Mendidik Anak (USIA 10 – 14 TAHUN) part 3






1.      Mengajari anak etika meminta izin
Allah swt menganjurkan bagi anak kecil yang belum mencapai usia baligh untuk meminta izin bila hendak memasuki kamar tidur kedua orang tuanya atau selain mereka, hanya pada tiga waktu tertentu, karena pada ketiga waktu tersebut biasanya aurat sering terbuka. Ketiga waktu tersebut ialah saat menjelang shubuh, saat waktu zhuhur, dan sesudah shalat Isya.
Allah swt membatasi pada ketiga waktu tersebut bagi anak yang belum baligh karena sang anak dalam usia ini banyak bergerak dan sering keluar-masuk, berhenti, diam, dan bermain, sehingga sulit baginya untuk meminta izin. Apabila usianya mendekati baligh, ihtilam, dan tamyiz, maka dengan sendirinya ia jarang bermain dan keluar-masuk. Ia mulai bisa mengerti, dapat menahan diri, dan tidak sulit baginya untuk menemui orang tuanya yang ada di dalam kamar kapan pun, manakala ia melihat pintu kamar tertutup.

2.      Mendidik anak untuk tidak mengganggu sesama, terutama tetangga
Diriwayatkan dari Amar bin Syu’aib ra mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda tentang tetangga, “Jika kamu membeli buah-buahan, berilah ia dan jika kamu tidak mau memberinya, masukkanlah buah-buahan itu secara sembunyi-sembunyi dan jangan biarkan anak kamu keluar (sambil memakannya) karena akan membuat anak tetanggamu juga menginginkannya.”

3.      Memberi peringatan kepada anak untuk tidak saling mengancam dengan senjata tajam walaupun untuk bergurau
Abu Hurairah ra mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang mengacungkan besi kepada saudaranya, maka sesungguhnya para malaikat melaknatinya sampai ia meninggalkan perbuatannya, meskipun yang diacunginya itu adalah saudara kandungnya.” (HR. Muslim, Kitabul Birri was Shilah, no.4741).

4.      Melarang anak bergurau yang bersifat mengejutkan
Nabi saw bersabda, “Tidak diperbolehkan muslim menakuti-nakuti saudaranya.” (HR. Tirmidzi, Kitabul Fitan; Abu Dawud, Kitabul Adab, no.4351).

5.      Memberi keringanan kepada anak
Ketika Anas ra, pelayan Nabi saw berusia remaja, ia pernah melakukan kelalaian atau kecerobohan dalam pekerjaannya, namun Nabi saw tidak pernah memarahinya atau menghukumnya. Jika ada ahlul bait Nabi saw yang memarahinya, Nabi saw selalu bersabda, “Biarkanlah I, seandainya ia mampu, tentu ia dapat melakukannya.”
Nabi saw sangat memahami bahwa seorang anak memiliki kemampuan akan dan fisik yang terbatas, maka Nabi saw senantiasa memberi keringanan kepada Anas ra.

6.      Melarang anak laki-laki menyerupai anak perempuan
Rasulullah saw melarang laki-laki menyerupai perempuan dan sebaliknya perempuan menyerupai laki-laki, baik dalam berpakaian, berpenampilan, maupun bertingkah laku. Hal ini mengandung banyak hikmah, di antaranya untuk menjaga kesucian fitrah manusia (insting murni yang diberikan Allah), agar tidak rusak tatanan kehidupan anak.

7.      Membiasakan anak berpenampilan sederhana dan melatih ketahanan diri
Berpenampilan dan berperilaku sederhana serta memiliki ketahanan diri baik fisik maupun mental adalah sikap yang sangat terpuji dan bermanfaat membentuk karakter yang kuat. Karakter inilah yang dimiliki Nabi saw dan ia mendidik umatnya agar memiliki kareakter ini.

8.      Memperlakukan anak perempuan dengan baik dan menjelaskan kedudukan wanita dalam Islam
Uqbah bin Amir ra mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian memperlakukan anak-anak perempuan dengan kasar, karena sesungguhnya mereka adalah manusia yang berpembawaan lembut lagi peka perasaannya.” (HR. Ahmad, Musnadusy Syamiyyin, no.16733).

9.      Tidak menelantarkan nafkah anak dan pendidikannya
Rasulullah saw bersabda, “Cukuplah berdosa seseorang yang menyia-nyiakan nafkah orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud, Kitabuz Zakat, no.1442).

10.  Mengingatkan anak agar tidak menghina dan merendahkan orang lain
QS. AL-Hujurat [49]; 11. Aisyah ra menceritakan bahwa ia pernah berkata kepada Nabi saw, “Cukuplah sikapmu terhadap Shafiyyah karena ia itu begini dan begitu.” (Musayyad, perawi hadits ini mengatakan bahwa yang dimaksud Aisyah ialah bahwa Shafiyyah itu orangnya pendek) Maka Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat itu dicampurkan dengan air laut niscaya akan mencemarinya.” (HR. Ahmad, Kitabul Adab, no.4232).


Referensi:
Kusumawati, Zaidah, dkk. 2011. Ensiklopedia Nabi Muhammad saw sebagai Pendidik. Jakarta: PT. Lentera Abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar